Selasa, 19 Juli 2022

Menaruh Hati pada Fisika

Menaruh Hati pada Fisika

Oleh: Santri


Sebagian besar orang awam akan secara otomatis bergidik ngeri saat mendengar frasa "Fisika". Akan muncul berbagai pemandangan dalam benak mereka begitu terlintas ingatan pada bidang keilmuan yang satu ini. Mungkin ada diantaranya yang berpikir bahwa Fisika itu hanya serentetan rumus-rumus panjang yang sulit dipahami. Ada juga barangkali yang memiliki trauma terhadap sesuatu yang berkaitan dengan bidang ini. Atau boleh jadi ada yang tidak mau sama sekali mencicipinya karena sudah teracuni berbagai maklumat buruk tentang Fisika. Namun tidak sedikit juga orang yang sukses menekuni bidang ini bahkan sudah menjadi passion dan keahliannya.

Secara umum semua bidang keilmuan akan menjadi sulit apabila kita tidak terjun dan menekuninya temaksud Fisika. Tanpa adanya kemauan, tentu pamahaman tidak mungkin hadir begitu saja bak durian runtuh yang jatuh dari langit. Karena apabila sudah ada kemauan untuk memulai sesuatu, maka sesuatu tersebut tidak akan lagi mengendap sebatas mimpi termaksud dalam mengkaji ilmu Fisika.

Fisika
Ilmu Fisika adalah salah satu cabang dari ilmu sains. Fisika adalah sebuah disiplin ilmu yang hakikatnya adalah sebagai body of knowledge (kumpulan pengetahuan), a way of investigating (cara menyelidiki), dan a way of thinking (cara berpikir). Fisika sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari bahkan faktanya bisa kita rasakan setiap saat. Misalnya saja saat kita berjalan, mengendarai mobil, saat bermain, memasak, bahkan benda dan segala sesuatu yang bisa kita indera dengan mata, mekanismenya mampu dijelaskan dalam ilmu Fisika. Jadi, Fisika tidak hanya berisi rumus-rumus mengerikan seperti pada benak kebanyakan orang yah. Tetapi juga memuat seluruh prinsip-prinsip dalam kehidupan yang kemudian Fisika menerjemahkannya dalam bentuk teori, hukum-hukum serta konsep Fisika seperti yang diajarkan guru-guru kita di sekolah.

Informasi Benar Tentang Fisika
Sebenarnya menaruh hati pada Fisika adalah kunci dari segala rintangan yang akan dihadapi. Menaruh hati pada apa yang akan kita kerjakan dan lakukan adalah yang akan mempermudah pemahaman terserap dengan baik. Ada banyak cara agar kita bisa menaruh hati pada Fisika, salah satunya dengan cara mengisi pikiran kita dengan informasi-informasi yang benar tentang Fisika. Informasi yang mampu membangkitkan semangat untuk mempelajari Fisika. Karena kualitas informasilah yang akan menentukan atau membentuk pola pikir seseorang yang selanjutnya akan diimplementasikan dengan caranya dalam bertingkah laku (pola sikap). Misalnya dengan membaca dan mempelajari kembali sejarah kegemilangan para cendekiawan muslim terdahulu dalam bidang sains. Kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan mengantarkan mereka pada puncak tertinggi pemahaman. Dasar-dasar ilmu sains ditemukan, karena spirit mereka dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Mereka senantiasa mengkaji dan mempelajari ilmu sains hingga memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan sains.

Ibnu Al-Haitsam
Misalnya saja Ibnu Al-Haitsam. Beliau adalah Pioner Fisika (khususnya Optika) dengan Kitāb Al-Manāẓir (Book of Optics) yang terbit pada tahun 1021 M. Ibn Al-Haitsam adalah yang pertama kali memulai tradisi dalam Fisika yang menciptakan sinergi antara rasional dan eksperimental yakni menggabungkan eksperimen dan teori. Ibn Al-Haytsam juga mempelopori suatu tradisi metode ilmiah untuk menguji sebuah hipotesis, bahkan 600 tahun mendahului Rene Descartes yang dianggap sebagai Bapak Metode Ilmiah Eropa. Metode ilmiah Ibn Al-Haytsam dimulai dari pengamatan empiris, perumusan masalah, formulasi hipotesis, uji hipotesis dengan eksperimen, analisis data hasil eksperimen, formulasi dan menarik kesimpulan, serta diakhiri dengan menulis laporan dan publikasi. Publikasi ini kemudian dinilai oleh peer-review yang membuka peluang bagi setiap orang untuk melacak dan bila perlu mengulangi apa yang dikerjakan seorang peneliti.

Kamera Obscura Ibnu Al-Haitsam
Menarik untuk diketahui sejarahnya bahwa Ibn Al-Haytsam melakukan eksperimennya tentang optik pada saat ia mengalami tahanan rumah, setelah sebelumnya ia gagal memenuhi tugas Amir Mesir untuk mewujudkan proyek bendungan sungai Nil. Dia baru dilepaskan setelah penemuan-penemuan optiknya dinilai impas untuk investasi yang telah dikeluarkan sang Amir. Selama penantian hukuman dalam ruang gelap tersebut, Ibn Al-Haytsam melakukan percobaan dengan mengamati objek melalui lubang kecil yang ia buat. Semakin kecil lubang, semakin jelas bentuknya, ia lalu membuat Kamera Obscura pertama (dari kata "qamara" dalam bahasa Arab untuk ruangan gelap atau ruang pribadi). Ibn Al-Haitsam juga memberikan kontribusi dalam menghubungkan Fisika dari era Yunani kuno (seperti Archimedes) ke era Islam seperti Al-Khazini (1130), Mimar Sinan (1490 –1588) dan bahkan hingga era modern (Newton, Faraday, dan Einstein).

Kiprah Para Cendekiawan Muslim
Ibn Al-Haytsam bukanlah satu-satunya ilmuan Fisika yang telah menorehkan prestasi dan tinta emas dalam bidang sains. Bukan pula satu-satunya yang telah memberikan wajah baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Di dunia mekanika misalnya ada Ja'far Muhammad Ibn Musa Ibn Syakir (800-873) dari Banu Musa berhipotesis bahwa benda-benda langit dan “lapisan langit” adalah subjek yang mengalami hukum-hukum fisika yang sama dengan bumi. Dalam bidang statistika, dinamika dan hidrolika ada Al-Biruni dan Al-Khazini yang penemuannya sangat berguna dalam pembuatan kincir air. Ada Hibatullah Abu'l-Barakat al-Baghdadi (1080-1165) yang membantah Aristoteles yang mengatakan bahwa gaya yang konstan akan menghasilkan gerak yang seragam, ketika dalam kitabnya al-Mu’tabar dia menulis bahwa gaya konstan akan menghasilkan percepatan (akselerasi). Menurutnya akselerasi adalah rerata dari perubahan kecepatan.

Ada juga Ibnu Bajah (Avempace) yang wafat tahun 1138 berargumentasi bahwa pada setiap aksi selalu ada reaksi. Teorinya ini sangat berpengaruh pada Fisikawan setelahnya, termasuk Galileo dan Newton, dan sangat bermanfaat guna menghitung kekuatan manjaniq, yakni ketapel raksasa yang berfungsi seperti meriam. Ada Ibnu Rusyd alias Averroes (1126-1198) adalah mujtahid dalam bidang fiqih yang juga fisikawan, terbukti dalam salah satu kitabnya dia mendefinisikan gaya sebagai tingkat kerja yang harus dilakukan untuk mengubah kondisi kinetik dari sebuah benda yang lembam. Apa yang ditulis Ibnu Rusyd ini 500 tahun lebih awal dari mekanika klasik Newton. Ada Al-Jazari yang memberikan kontribusi mengenai prinsip engkol mesin dan robotika. Dalam buku The Aviation History, ada juga Ibnu Firnas yang disebut sebagai manusia pertama yang terbang dengan alat yang lebih berat dari udara, karena percobaan nya terbang menggunakan alat yang ia rancang sendiri. Ada juga Hassan al Rammah (1295) yang telah menuliskan banyak tehnik tentang senjata api. Masih ada lebih banyak lagi ilmuan yang juga berkecimpung di dalam bidang Sains dan mempunyai karir yang gemilang di dalamnya.

Begitu mudahnya hari ini kita mengakses segala sesuatu termasuk mencari inspirasi dan informasi mengenai keberhasilan para ilmuwan terdahulu dalam bidang Fisika. Prestasi tersebut bukan hanya sekedar dijadikan bahan nostalgia, tetapi seluruhnya harus dipelajari dan dicontoh. Langkah demi langkah kesuksesan mereka harus ditiru. Maka pengalaman-pengalaman tersebut seharusnya menjadi batu loncatan untuk memantik kecintaan kita terhadap ilmu sains terlebih khusus Fisika. Menjadi bahan renungan bagi kita mengapa mereka begitu sukses padahal potensi pada setiap manusia adalah sama. Waktu yang kita punya juga sama kadarnya 24 jam dalam sehari, tidak ada bedanya. Yang membedakan hanyalah bagaimana cara kita mengatur semua potensi tersebut agar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Maka, menaruh hati pada Fisika merupakan suatu hal dasar yang sangat sederhana untuk memulai mempelajari dan memahami ilmu Fisika sebelum kita masuk melangkah lebih jauh menjelajah ke dalamnya dan melakukan step-step berikutnya dengan berbagai tantangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (PART 2)

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an) Part 2 Mindset Penghafal Qur’an وَلَقَدْ يَ...