Kamis, 25 Januari 2024

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (PART 2)

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN

(Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an)


Part 2

Mindset Penghafal Qur’an

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar (54): 17).

Pada bagian ini diawali dengan surah Al-Qamar ayat 17, yang merupakan ayat yang sangat populer di kalangan para pejuang dan pembelajar Al-Qur’an. Ayat ini adalah janji Allah bagi para penghafal Al-Qur’an bahwa Allah telah memberi jaminan kemudahan bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an. Ini adalah satu mindsed yang harus ada pada benak setiap penghafal Al-Qur’an. Yakin bahwa menghafal Al-Qur’an itu mudah!

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya maksud dari ayat tersebut yakni Al-Qur’an telah dimudahkan lafadznya, dimudahkan pengertiannya bagi orang-orang yang hendak memberikan peringatan kepada umat manusia. Mujahid mengatakan: Yakni bacaannya menjadi mudah. As-Suddi mengatakan: Artinya, kami mudahkan bacaannya bagi semua lidah. Sedangkan A-Dhahhak menceritakan dari Ibnu Abbas: Seandainya Allah tidak memberikan kemudahan pada lidah anak cucu Adam, niscaya tidak ada seorangpun mahluk yang dapat mengucapkan firman Allah SWT. Diantara kemudahan yang diberikan Allah kepada umat manusia adalah membaca Al-Qur’an. Lanjutan ayat-Nya “Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” Ibnu Abi Hatim menceritakan dari Mathar Al-Waraq: “Apakah ada orang yang mau mencari ilmu sehingga ia akan diberikan pertolongan melakukannya?” [2].

Bahkan redaksi ayat tersebut dalam surah Al-Qomar diulang sebanyak empat kali pada ayat 17, 22, 32, dan 40, Allah SWT sampai empat kali meyakinkan dalam penggalan ayatnya yakni menggunakan huruf ‘lam’ dan ‘qod’ yang merupakan huruf taukid. Huruf taukid digunakan untuk meyakinkan sesuatu yang sedang dibahas kepada orang lain dalam merespon tindakan mengingkari sesuatu. Lam digunakan untuk meyakinkan dan qod juga digunakan untuk meyakinkan maka jangan sampai kita ragu karena jika kita ragu maka keraguan itulah yang akan menyulitkan diri kita sendiri. Apabila terbersit keraguan dalam hati merupakan tanda bahwa kita telah berburuk sangka kepada Allah. Maka sekali lagi perlu diperhatikan bahwa setiap menghadapi kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an suatu saat nanti yakinkanlah akan mudah.

Surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32 dan 40 ini dikenal dengan nama ayat Taisir atau kemudahan. Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Al-Tabariy membagi tafsirannya terhadap ayat Taisir Al-Qur’an menjadi dua. Pertama, kalimat “wa laqad yassarna Al-Qur’an li al-Dhikr” ditafsirkan oleh Al-Tabariy sebagai berikut:

الْقُرْآنَ بِتَبْيِيْنِنَاهُ وَتَفْصِيْلِنَاهُ لِلذِّكْرِ، لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَذَكَّرَ وَيَعْتَبِرَ وَيَتَّعِظَ ، وَهَوَّنَّاهُ  وَلَقَدْ سَهَّلْنَا

Dan sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an dengan penjelasan dan perincian Kami terhadapnya untuk peringatan, bagi yang ingin mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat, dan sungguh Kami telah meringankannya [3].

Penafsiran Al-Tabariy bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan Allah dengan penjelasan dan perincian-Nya untuk peringatan mungkin agak sulit dipahami. Penafsiran Al-Tabariy itu barangkali dipahami bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan untuk pelajaran. Karena ungkapan “pelajaran” sekilas lebih sesuai daripada “peringatan” [3].

Tetapi, apabila diperhatikan dengan cermat, ungkapan Al-Tabariy bahwa Al-Qur’an dimudahkan untuk peringatan itu diterangkan oleh Al-Tabariy di dalam ungkapan sesudahnya dengan memakai kata kerja (fi’il) dan didahului dengan tanda baca koma (,). Yang dimaksud dengan ungkapan Al-Tabariy bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan Allah dengan penjelasan dan perincian-Nya untuk peringatan itu adalah “…liman arada an yatadhakkar wa ya’tabir wa yatta’iz… (…bagi yang ingin mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat…)”. Jadi, li al-Dhikr dalam keterangannya itu artinya “untuk peringatan” karena ada ungkapan berikutnya, yaitu “…liman arada an yatadhakkar wa ya’tabir wa yatta’iz… (bagi yang ingin mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat…)”. Itu berarti al-Dhikr adalah tadhakkur (yatadhakkar: mengingat-ingat), i’tibar (ya’tabir: mengambil pelajaran), dan itti’az (yatta’iz: menerima nasihat) [3].

Dengan demikian, penafsiran Al-Tabariy terhadap kalimat pertama Ayat Taisir Al-Qur’an dapat dipahami bahwa Al-Qur’an dimudahkan oleh Allah untuk memberi peringatan. Dan oleh karena itu, Rasul yang bertugas menyampaikan Al-Qur’an juga disebut sebagai pemberi peringatan atau nadhir (Surah Al-Ahzab [33]:45).

Kedua, kalimat “fahal min muddakir” ditafsirkan oleh Tabariy sebagai berikut:

فَهَلْ مِنْ مُعْتَبِرٍ مُتَّعِظٍ يَتَذَكَّرُ فَيَعْتَبِرُ بِمَا فِيْهِ مِنَ العِبَرِ وَالذِّكْرِ

Maka apakah ada orang yang mengambil pelajaran, menerima nasihat, mengingat-ingat, maka dia mengambil pelajaran dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu teladan-teladan dan peringatan [3].

Penafsiran Al-Tabariy terhadap kalimat kedua dari ayat Taisir Al-Qur’an ini dapat dipahami dengan mudah karena penafsiran ayat pertamanya sudah dimengerti. Jika Al-Qur’an telah dimudahkan oleh Allah bagi yang ingin mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat, adakah orang yang mau mengambil pelajaran, menerima nasihat, mengingat-ingat, maka dia mengambil pelajaran dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu teladan-teladan dan peringatan [3].

Saking Allah telah memudahkan bagi yang hendak mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat, Allah sampai menantang adakah orang yang mau mengambil pelajaran, menerima nasihat, mengingat-ingat, maka dia mengambil pelajaran dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an yaitu teladan-teladan dan peringatan (fahal min mu’tabir mutta’iz yatadhakkar faya’tabir bima fih min al-‘ibar wa al-Dhikr). Kalau pada kalimat pertama penjelasannya, al-Tabariy menggunakan kata kerja (fi’il), “…liman arada an yatadhakkar wa ya’tabir wa yatta’iz…”: yatadhakkar, ya’tabir, yatta’iz (mengingat-ingat, mengambil pelajaran, mengambil nasehat), maka pada kalimat kedua penjelasan al-Tabariy menggunakan fa’il (pelaku) [3].

Hal ini sepenuhnya dapat diterima karena ketika Al-Qur'an telah memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan (fi’il) seperti menghafal (yatadhakkar), mempelajari (ya’tabir), menerima nasehat (yatta’iz), maka tentu saja Al-Qur’an akan menantang siapa yang mau untuk menjadi pelaku (fail). Dengan demikian, penafsiran al-Tabariy dalam ayat kedua  terhadap ayat Taisir dalam Al-Qur’an menggunakan fa’il, yaitu mu’tabir (pembelajar atau orang yang mengambil pelajaran) dan mutta’iz (penerima nasihat atau orang yang menerima nasihat) “fahal min mu’tabir mutta’iz yatadhakkar faya’tabir bima fih min al-‘Ibar wa al-Dzikir”. Sebab, seseorang yang ingin menjadi mu’tabir (pelajar atau orang yang mendapat pelajaran) dan mutta’iz (orang yang menerima nasehat), maka ia harus melakukan aktivitas atau kegiatan mempelajari pelajaran, menerima nasehat, menghafal, dengan begitu ia mempelajari hikmah dari apa yang ada dalam Al-Qur’an, yaitu teladan-teladan dan peringatan (fahal min mu’tabir mutta’iz yatadhakkar faya’tabir bima fih min al-‘Ibar wa al-Dzikir) [3].

                Dengan begitu, ayat Taisir Al-Qur’an yang pertama dan kedua saling bersambung. “Wa laqad yassarna Al-Qur’an li al-Dzikir fahal min muddakir” (Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al-Qur'an mudah diingat, sehingga siapa yang masih ingat-ingat) [3].


“Maka apabila dalam memulai atau sedang menghafalkan Al- Qur’an , setiap kali mengalami kesulitan yakinkan lah dalam diri bahwa menghafal Al-Qur’an itu “Mudah Mudah Mudah” tanpa keraguan sedikitpun”




Referensi:

[2]

Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, Pertama ed. Kairo: Pustaka Imam Asy-Syafi'i, 2004.

[3]

Achmad Sjamsudin, Al-Qur'an Itu Mudah. Yokyakarta, Indonesia: Leutika Prio, 2019.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (PART 2)

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an) Part 2 Mindset Penghafal Qur’an وَلَقَدْ يَ...