Minggu, 07 Januari 2024

Mengais Kepingan Cahaya Al-Qur'an (Part 1)

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR'AN

(Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an)

Oleh: Santri


Part 1

Mengambil Bagian Menjadi Penjaga Al-Qur’an

Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi manusia dalam menjalankan aktivitas dan kehidupannya di dunia. Al-Qur’an menjadi patokan dan tolak ukur segala perbuatan yang hendak kita lakukan serta menjadi pemutus perkara atas problem yang menimpa manusia. Al-Qur’an akan mengangkat kedudukan kita pada kedudukan-kedudukan yang tinggi. Al-Qur’an menjadikan semua yang berhubungan dengannya maupun yang berinteraksi dengannya menjadi mulia.

Contoh kecil misal secarik kertas yang bertuliskan ayat Al-Qur’an maka kertas itu menjadi mulia. Diperlakukan dengan baik, tidak boleh dibuang sembarangan, tidak boleh dicecer di sembarang tempat, apalagi digeletak di lantai sejajar dengan kaki atau diinjak. Mekkah Al-Mukaromah menjadi kota mulia karena di sanalah lokasi Al-Qur’an diturunkan. Ketika wahyu pertama dihantarkan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW, maka jibril menjadi malaikat yang paling mulia disisi Allah SWT. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi mulia karena beliau menerima risalah Al-Qur’an. Bulan Ramadhan diturunkannya Al-Qur’an menjadi bulan yang mulia diantara sebelas bulan lainnya dalam setahun. Malam Lailatul Qadar menjadi mulia lebih baik dari seribu bulan. Qory/qoriah dimuliakan karena melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Demikian pula ulama, da’i, dan para pengemban dakwah kedudukannya mulia karena menjadi penyeru pesan-pesan Al-Qur’an.

Kemudian bagaimana kabarnya kemuliaan para penghafal Al-Qur’an? Orang yang menghafal Al-Qur’an adalah yang paling banyak mendapat pahala dari Al-Qur’an. Bagaimana tidak, jika setiap huruf yang dibaca bernilai 10 pahala, maka sudah tidak terhitung besarnya investasi para penghafal Qur’an dengan mengulang-ulang bacaan sampai hafal, mengulang-ulang murojaah agar mutqin. Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata, “Barangsiapa yang membaca satu huruf Al-Qur’an, maka baginya kebaikan. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak menyebut alif laam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. Tirmidzi).

Penghafal Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an pada hari kiamat, mendapatkan keistimewaan yang banyak dan balasan yang teramat mulia di sisi Allah SWT. Diriwayatkan dari Umar bin Khathab bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sungguh Allah meninggikan derajat sebagian kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan derajat kaum lain dengannya” (HR. Muslim). Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya” (HR. Muslim).

Penghafal Al-Qur’an adalah kerabat Allah yang berada di atas bumi. Mereka akan mendapatkan syafaat khusus di hari kiamat. Pada saat di akhirat penghafal Al’Qur’an akan diminta naik pada tingkatan-tingkatan surga yang telah ditentukan hingga bacaannya selesai. Rasulullah SAW bersabda, “Dikatakan kepada yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an nanti, Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i). Para penghafal Al-Qur’an akan menjadi kebanggaan orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, ia akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat, yang cahayanya lebih baik daripada cahaya mentari yang menerpa rumah-rumah dunia. Andaikata hal itu terjadi pada kalian, bagaimana menurut kalian jika hal tersebut didapatkan oleh orang yang mengamalkan Al-Qur’an?” (HR. Abu Daud).

Al-Qur’an tidak dapat diubah isinya namun isinya dapat mengubah kehidupan kita. Karena Al-Qur’an yang akan membimbing kita kepada kebaikan-kebaikan sebagaimana isinya seluruhnya merupakan kebaikan. Oleh sebab itu sudah semestinya Al-Qur’an senantiasa menjadi penyiram hati dan teman setia dalam segala keadaan disepanjang waktu. Allah SWT berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

 “Wahai manusia sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman” (QS. Yunus [10]: 57).

Pada sisi yang lain aktivitas interaksi bersama Al-Quran seluruhnya adalah bernilai ibadah baik itu membacanya, menuliskannya, menghafalkannya, mempelajarinya, apalagi jika bisa sampai diterapkan setiap hukum-hukumnya dalam kehidupan.

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Ma’idah [5]: 45).

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita berusaha secara optimal untuk melaksanakan dan memenuhi kewajiban tersebut sebagai bentuk kecintaan dan ketaatan kita kepada Allah SWT.

Memilih jalan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah jalan yang bisa dibilang tidak mudah tetapi tidak juga sesulit seperti apa yang kita bayangkan. Karena bagaimanapun juga setiap keputusan, setiap pilihan yang kita tempuh pastilah punya konsekuensi dan tantangannya masing-masing. Sama halnya saat kita memutuskan untuk menjadi bagian dari barisan para penjaga Al-Qur’an. Maka kita harus siap menghadapi sekelumit kebiasaan yang harusnya ada pada seorang penghafal Al-Qur’an. Memilih jalan yang jarang diambil oleh sebagian orang. Saat kita membuat keputusan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an maka kita harus menerima konsekuensi menjaga hafalan itu hingga akhir hayat. Kalau menghafal adalah tanda cinta maka murojaah adalah bentuk kesetiaan.

Salah satu alasan kuat tak terbantahkan saat kita memilih menghafal Al-Qur’an adalah karena kita adalah seorang muslim. Seluruh generasi muslim turun temurun telah menjadikan tradisi menghafal Al-Qur’an sebagai sesuatu yang mendarah daging dalam kehidupan mereka. Karena bagaiamana pun juga hafalan Al-Qur’an dibutuhkan paling minimal dalam shalat bukan? Para sahabat, ulama, tabi’in, tabi’in tabi’ut, para ahli pada bidang-bidang keilmuan tertentu, dan para generasi emas didalam peradaban Islam hampir bisa dipastikan mereka semua diantaranya adalah para penghafal Al-Qur’an.

Menghafal Al-Qur’an bukanlah aktivitas baru, bukan aktivitas langka. Aktivitas ini sudah ada bahkan saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan di Gua Hira, Rasulullah dituntun langsung oleh malaikat Jibril sampai beliau hafal. Para Sahabat banyak diantaranya adalah para penghafal Al-Qur’an. Seperti diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Mintalah bacaan Al-Qur’an dari empat orang ini, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim budaknya Abu Hudzaifah, Mu’adz bin Jabal, dan Ubai bin Ka’ab.” (HR. Bukhari).

Sebenarnya para penghafal Al-Qur’an pada masa Nabi cukup banyak. Pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq misalnya banyak diantara mereka yang syahid dalam peperangan melawan Musailamah di Yamamah. Menurut Shahihain, jumlah yang terbunuh sebanyak 70 orang dari kalangan Anshar pada peristiwa Bi’r Ma’unah, mereka dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an.

Al-Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam dalam karyanya Al-Qira’at menyebutkan nama-nama para penghafal Al-Qur’an. Dari golongan muhajirin diantaranya: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Salim budaknya Abu Hudzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin As-Saib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Amru bin Ash, Aisyah, Hafsah dan Ummu Salamah ra. Sedangkan dari golongan Anshar diantaranya: Ubadah bin Shamit, Mu’adz dengan julukan Abu Halimah, Mujammi’ bin Jariyah, Fudhalah bin Ubadah dan Maslamah bin Mukhalid.


“Keputusan untuk mengambil bagian menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah spirit luar biasa utuk menyambut janji Allah SWT”


Para Sahabat sangat bersungguh-sungguh dalam menghafal Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an pun terhujam kuat dalam hati mereka, bukan hanya hafal tulisannya tetapi juga pemeliharaannya sebagaimana firman Allah SWT,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 40).

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al-Hijr [15]: 9).

Para sahabat terkenal memiliki ingatan yang kuat dan pikiran yang jernih. Mereka mampu hafal dalam satu kali pertemuan saja. Bahkan, ada yang bisa menghafal beberapa puluh bait syair dengan sekali mendengar. Para Sahabat selalu bergelut dengan hafalan Al-Qur’an, mengamalkan dan membacanya setiap saat, baik dalam kondisi aman maupun dalam kondisi saat perang [1].

Bahwasanya diriwayatkan dari Hasan: “Sesungguhnya generasi sebelum kalian itu memandang Al-Qur’an sebagai risalah dari Rabb mereka sehingga mereka pun mentadaburinya di malam hari dan mengamalkannya pada siang hari”. Dari sekian banyaknya keutamaan, balasan, dan janji-janji Allah bagi para penghafal Al-Qur’an masihkah kita ragu untuk mengambil bagian dari peran ini? Atau justru bertambah yakin dan berlomba memantaskan diri untuk mengambil posisi ini?


“Orang yang tidak memiliki hafalah Al-Qur’an sedikit pun, diibaratkan seperti rumah yang roboh” (HR. Tirmidzi).



Referensi:

[1]

Ahmad K Jum'ah, Al-Qur'an dalam Pandangan Sahabat Nabi. Jakarta: Gema Insani Pres, 1999.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (PART 2)

MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN (Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an) Part 2 Mindset Penghafal Qur’an وَلَقَدْ يَ...