MENGAIS KEPINGAN CAHAYA AL-QUR'AN
(Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an)
Oleh: Santri
Part 1
Mengambil Bagian Menjadi Penjaga Al-Qur’an
Al-Quran
merupakan pedoman hidup bagi manusia dalam menjalankan aktivitas dan
kehidupannya di dunia. Al-Qur’an menjadi patokan dan tolak ukur segala
perbuatan yang hendak kita lakukan serta menjadi pemutus perkara atas problem
yang menimpa manusia. Al-Qur’an akan mengangkat kedudukan kita pada
kedudukan-kedudukan yang tinggi. Al-Qur’an menjadikan semua yang berhubungan
dengannya maupun yang berinteraksi dengannya menjadi mulia.
Contoh kecil
misal secarik kertas yang bertuliskan ayat Al-Qur’an maka kertas itu menjadi
mulia. Diperlakukan dengan baik, tidak boleh dibuang sembarangan, tidak boleh
dicecer di sembarang tempat, apalagi digeletak di lantai sejajar dengan kaki
atau diinjak. Mekkah Al-Mukaromah menjadi kota mulia karena di sanalah lokasi
Al-Qur’an diturunkan. Ketika wahyu pertama dihantarkan oleh malaikat Jibril
kepada Rasulullah SAW, maka jibril menjadi malaikat yang paling mulia disisi
Allah SWT. Nabi Muhammad SAW menjadi nabi mulia karena beliau menerima risalah
Al-Qur’an. Bulan Ramadhan diturunkannya Al-Qur’an menjadi bulan yang mulia
diantara sebelas bulan lainnya dalam setahun. Malam Lailatul Qadar menjadi
mulia lebih baik dari seribu bulan. Qory/qoriah dimuliakan karena melantunkan
ayat suci Al-Qur’an. Demikian pula ulama, da’i, dan para pengemban dakwah
kedudukannya mulia karena menjadi penyeru pesan-pesan Al-Qur’an.
Kemudian
bagaimana kabarnya kemuliaan para penghafal Al-Qur’an? Orang yang menghafal
Al-Qur’an adalah yang paling banyak mendapat pahala dari Al-Qur’an. Bagaimana
tidak, jika setiap huruf yang dibaca bernilai 10 pahala, maka sudah tidak
terhitung besarnya investasi para penghafal Qur’an dengan mengulang-ulang
bacaan sampai hafal, mengulang-ulang murojaah agar mutqin. Tirmidzi
meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata, “Barangsiapa yang
membaca satu huruf Al-Qur’an, maka baginya kebaikan. Setiap kebaikan akan
dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak menyebut alif laam mim itu satu huruf,
tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR.
Tirmidzi).
Penghafal
Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an pada hari kiamat, mendapatkan
keistimewaan yang banyak dan balasan yang teramat mulia di sisi Allah SWT. Diriwayatkan
dari Umar bin Khathab bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sungguh Allah
meninggikan derajat sebagian kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkan derajat kaum
lain dengannya” (HR. Muslim). Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili
ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena
ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya” (HR.
Muslim).
Penghafal
Al-Qur’an adalah kerabat Allah yang berada di atas bumi. Mereka akan
mendapatkan syafaat khusus di hari kiamat. Pada saat di akhirat penghafal
Al’Qur’an akan diminta naik pada tingkatan-tingkatan surga yang telah
ditentukan hingga bacaannya selesai. Rasulullah SAW bersabda, “Dikatakan
kepada yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an nanti, Bacalah dan naiklah serta
tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah
pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan
Nasa’i). Para penghafal Al-Qur’an akan menjadi kebanggaan orang tuanya di
dunia maupun di akhirat. Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas ia berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan
isinya, ia akan mengenakan mahkota kepada kedua orang tuanya pada Hari Kiamat,
yang cahayanya lebih baik daripada cahaya mentari yang menerpa rumah-rumah
dunia. Andaikata hal itu terjadi pada kalian, bagaimana menurut kalian jika hal
tersebut didapatkan oleh orang yang mengamalkan Al-Qur’an?” (HR. Abu
Daud).
Al-Qur’an tidak
dapat diubah isinya namun isinya dapat mengubah kehidupan kita. Karena Al-Qur’an
yang akan membimbing kita kepada kebaikan-kebaikan sebagaimana isinya
seluruhnya merupakan kebaikan. Oleh sebab itu sudah semestinya Al-Qur’an
senantiasa menjadi penyiram hati dan teman setia dalam segala keadaan disepanjang
waktu. Allah SWT berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم
مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ
لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia sungguh telah
datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit
yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman” (QS. Yunus [10]: 57).
Pada sisi yang lain aktivitas interaksi bersama Al-Quran seluruhnya
adalah bernilai ibadah baik itu membacanya, menuliskannya, menghafalkannya,
mempelajarinya, apalagi jika bisa sampai diterapkan setiap hukum-hukumnya dalam
kehidupan.
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ
فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ…
“Barang siapa tidak memutuskan perkara berdasarkan apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Ma’idah [5]: 45).
Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita berusaha secara
optimal untuk melaksanakan dan memenuhi kewajiban tersebut sebagai bentuk
kecintaan dan ketaatan kita kepada Allah SWT.
Memilih jalan
untuk menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah jalan yang bisa dibilang tidak
mudah tetapi tidak juga sesulit seperti apa yang kita bayangkan. Karena
bagaimanapun juga setiap keputusan, setiap pilihan yang kita tempuh pastilah
punya konsekuensi dan tantangannya masing-masing. Sama halnya saat kita
memutuskan untuk menjadi bagian dari barisan para penjaga Al-Qur’an. Maka kita
harus siap menghadapi sekelumit kebiasaan yang harusnya ada pada seorang
penghafal Al-Qur’an. Memilih jalan yang jarang diambil oleh sebagian orang.
Saat kita membuat keputusan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an maka kita harus
menerima konsekuensi menjaga hafalan itu hingga akhir hayat. Kalau menghafal
adalah tanda cinta maka murojaah adalah bentuk kesetiaan.
Salah satu
alasan kuat tak terbantahkan saat kita memilih menghafal Al-Qur’an adalah
karena kita adalah seorang muslim. Seluruh generasi muslim turun temurun telah
menjadikan tradisi menghafal Al-Qur’an sebagai sesuatu yang mendarah daging
dalam kehidupan mereka. Karena bagaiamana pun juga hafalan Al-Qur’an dibutuhkan
paling minimal dalam shalat bukan? Para sahabat, ulama, tabi’in, tabi’in
tabi’ut, para ahli pada bidang-bidang keilmuan tertentu, dan para generasi emas
didalam peradaban Islam hampir bisa dipastikan mereka semua diantaranya adalah
para penghafal Al-Qur’an.
Menghafal
Al-Qur’an bukanlah aktivitas baru, bukan aktivitas langka. Aktivitas ini sudah
ada bahkan saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan di Gua Hira, Rasulullah
dituntun langsung oleh malaikat Jibril sampai beliau hafal. Para Sahabat banyak
diantaranya adalah para penghafal Al-Qur’an. Seperti diriwayatkan oleh Bukhari
dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata:
“Sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda, ‘Mintalah bacaan Al-Qur’an dari empat orang ini, yaitu
Abdullah bin Mas’ud, Salim budaknya Abu Hudzaifah, Mu’adz bin Jabal, dan Ubai
bin Ka’ab.” (HR.
Bukhari).
Sebenarnya para
penghafal Al-Qur’an pada masa Nabi ﷺ cukup banyak. Pada
masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq misalnya banyak diantara mereka yang syahid
dalam peperangan melawan Musailamah di Yamamah. Menurut Shahihain, jumlah
yang terbunuh sebanyak 70 orang dari kalangan Anshar pada peristiwa Bi’r
Ma’unah, mereka dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an.
Al-Imam Abu
Ubaid Al-Qasim bin Salam dalam karyanya Al-Qira’at menyebutkan nama-nama
para penghafal Al-Qur’an. Dari golongan muhajirin diantaranya: Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdullah bin Mas’ud,
Hudzaifah bin Yaman, Salim budaknya Abu Hudzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin
As-Saib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abdullah
bin Amru bin Ash, Aisyah, Hafsah dan Ummu Salamah ra. Sedangkan dari golongan
Anshar diantaranya: Ubadah bin Shamit, Mu’adz dengan julukan Abu Halimah,
Mujammi’ bin Jariyah, Fudhalah bin Ubadah dan Maslamah bin Mukhalid.
“Keputusan untuk mengambil bagian menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah spirit luar biasa utuk menyambut janji Allah SWT”
Para Sahabat
sangat bersungguh-sungguh dalam menghafal Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an pun
terhujam kuat dalam hati mereka, bukan hanya hafal tulisannya tetapi juga
pemeliharaannya sebagaimana firman Allah SWT,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ
فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya
telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil
pelajaran?” (QS.
Al-Qamar [54]: 40).
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا
لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
“Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya” (Al-Hijr
[15]: 9).
Para sahabat
terkenal memiliki ingatan yang kuat dan pikiran yang jernih. Mereka mampu hafal
dalam satu kali pertemuan saja. Bahkan, ada yang bisa menghafal beberapa puluh
bait syair dengan sekali mendengar. Para Sahabat selalu bergelut dengan hafalan
Al-Qur’an, mengamalkan dan membacanya setiap saat, baik dalam kondisi aman
maupun dalam kondisi saat perang
Bahwasanya
diriwayatkan dari Hasan: “Sesungguhnya generasi sebelum kalian itu memandang
Al-Qur’an sebagai risalah dari Rabb mereka sehingga mereka pun mentadaburinya
di malam hari dan mengamalkannya pada siang hari”. Dari sekian banyaknya
keutamaan, balasan, dan janji-janji Allah bagi para penghafal Al-Qur’an
masihkah kita ragu untuk mengambil bagian dari peran ini? Atau justru bertambah
yakin dan berlomba memantaskan diri untuk mengambil posisi ini?
|
Ahmad K Jum'ah, Al-Qur'an
dalam Pandangan Sahabat Nabi. Jakarta: Gema Insani Pres, 1999. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar