MENGAIS
KEPINGAN CAHAYA AL-QUR’AN
(Perjalanan Mewujudkan Impian Menjadi Penghafal Al-Qur’an)
Part 2
Mindset Penghafal Qur’an
وَلَقَدْ
يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar (54): 17).
Pada bagian ini diawali dengan surah
Al-Qamar ayat 17, yang merupakan ayat yang sangat populer di kalangan para
pejuang dan pembelajar Al-Qur’an. Ayat ini adalah janji Allah bagi para
penghafal Al-Qur’an bahwa Allah telah memberi jaminan kemudahan bagi orang yang
mempelajari Al-Qur’an. Ini adalah satu mindsed yang harus ada pada benak setiap
penghafal Al-Qur’an. Yakin bahwa menghafal Al-Qur’an itu mudah!
Ibnu Katsir menjelaskan dalam
tafsirnya maksud dari ayat tersebut yakni Al-Qur’an telah dimudahkan lafadznya,
dimudahkan pengertiannya bagi orang-orang yang hendak memberikan peringatan
kepada umat manusia. Mujahid mengatakan: Yakni bacaannya menjadi mudah. As-Suddi
mengatakan: Artinya, kami mudahkan bacaannya bagi semua lidah. Sedangkan
A-Dhahhak menceritakan dari Ibnu Abbas: Seandainya Allah tidak memberikan kemudahan
pada lidah anak cucu Adam, niscaya tidak ada seorangpun mahluk yang dapat
mengucapkan firman Allah SWT. Diantara kemudahan yang diberikan Allah kepada
umat manusia adalah membaca Al-Qur’an. Lanjutan ayat-Nya “Maka adakah orang
yang mengambil pelajaran?” Ibnu Abi Hatim menceritakan dari Mathar
Al-Waraq: “Apakah ada orang yang mau mencari ilmu sehingga ia akan diberikan
pertolongan melakukannya?”
Bahkan redaksi ayat tersebut dalam surah Al-Qomar diulang sebanyak empat kali pada ayat 17, 22, 32, dan 40, Allah SWT sampai empat kali meyakinkan dalam penggalan ayatnya yakni menggunakan huruf ‘lam’ dan ‘qod’ yang merupakan huruf taukid. Huruf taukid digunakan untuk meyakinkan sesuatu yang sedang dibahas kepada orang lain dalam merespon tindakan mengingkari sesuatu. Lam digunakan untuk meyakinkan dan qod juga digunakan untuk meyakinkan maka jangan sampai kita ragu karena jika kita ragu maka keraguan itulah yang akan menyulitkan diri kita sendiri. Apabila terbersit keraguan dalam hati merupakan tanda bahwa kita telah berburuk sangka kepada Allah. Maka sekali lagi perlu diperhatikan bahwa setiap menghadapi kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an suatu saat nanti yakinkanlah akan mudah.
Surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32
dan 40 ini dikenal dengan nama ayat Taisir atau kemudahan. Abu Ja’far
Muhammad Ibn Jarir Al-Tabariy membagi tafsirannya terhadap ayat Taisir
Al-Qur’an menjadi dua. Pertama, kalimat “wa laqad yassarna Al-Qur’an
li al-Dhikr” ditafsirkan oleh Al-Tabariy sebagai berikut:
الْقُرْآنَ
بِتَبْيِيْنِنَاهُ وَتَفْصِيْلِنَاهُ لِلذِّكْرِ، لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَذَكَّرَ
وَيَعْتَبِرَ وَيَتَّعِظَ ، وَهَوَّنَّاهُ وَلَقَدْ سَهَّلْنَا
Dan
sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an dengan penjelasan dan perincian Kami
terhadapnya untuk peringatan, bagi yang ingin mengingat-ingat, mengambil
pelajaran, dan menerima nasihat, dan sungguh Kami telah meringankannya
Penafsiran Al-Tabariy bahwa
Al-Qur’an telah dimudahkan Allah dengan penjelasan dan perincian-Nya untuk
peringatan mungkin agak sulit dipahami. Penafsiran Al-Tabariy itu barangkali
dipahami bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan untuk pelajaran. Karena ungkapan
“pelajaran” sekilas lebih sesuai daripada “peringatan”
Tetapi, apabila diperhatikan
dengan cermat, ungkapan Al-Tabariy bahwa Al-Qur’an dimudahkan untuk peringatan
itu diterangkan oleh Al-Tabariy di dalam ungkapan sesudahnya dengan memakai
kata kerja (fi’il) dan didahului dengan tanda baca koma (,). Yang
dimaksud dengan ungkapan Al-Tabariy bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan Allah
dengan penjelasan dan perincian-Nya untuk peringatan itu adalah “…liman
arada an yatadhakkar wa ya’tabir wa yatta’iz… (…bagi yang ingin
mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat…)”. Jadi, li
al-Dhikr dalam keterangannya itu artinya “untuk peringatan” karena ada
ungkapan berikutnya, yaitu “…liman arada an yatadhakkar wa ya’tabir wa
yatta’iz… (bagi yang ingin mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan
menerima nasihat…)”. Itu berarti al-Dhikr adalah tadhakkur (yatadhakkar:
mengingat-ingat), i’tibar (ya’tabir: mengambil pelajaran), dan itti’az
(yatta’iz: menerima nasihat)
Dengan demikian, penafsiran
Al-Tabariy terhadap kalimat pertama Ayat Taisir Al-Qur’an dapat dipahami
bahwa Al-Qur’an dimudahkan oleh Allah untuk memberi peringatan. Dan oleh karena
itu, Rasul yang bertugas menyampaikan Al-Qur’an juga disebut sebagai pemberi
peringatan atau nadhir (Surah Al-Ahzab [33]:45).
Kedua, kalimat “fahal min
muddakir” ditafsirkan oleh Tabariy sebagai berikut:
فَهَلْ
مِنْ مُعْتَبِرٍ مُتَّعِظٍ يَتَذَكَّرُ فَيَعْتَبِرُ بِمَا فِيْهِ مِنَ العِبَرِ
وَالذِّكْرِ
Maka
apakah ada orang yang mengambil pelajaran, menerima nasihat, mengingat-ingat,
maka dia mengambil pelajaran dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu
teladan-teladan dan peringatan
Penafsiran Al-Tabariy terhadap kalimat kedua dari ayat Taisir
Al-Qur’an ini dapat dipahami dengan mudah karena penafsiran ayat pertamanya
sudah dimengerti. Jika Al-Qur’an telah dimudahkan oleh Allah bagi yang ingin
mengingat-ingat, mengambil pelajaran, dan menerima nasihat, adakah orang yang
mau mengambil pelajaran, menerima nasihat, mengingat-ingat, maka dia mengambil
pelajaran dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu teladan-teladan dan peringatan
Saking Allah telah memudahkan bagi yang hendak mengingat-ingat,
mengambil pelajaran, dan menerima nasihat, Allah sampai menantang adakah orang
yang mau mengambil pelajaran, menerima nasihat, mengingat-ingat, maka dia
mengambil pelajaran dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an yaitu
teladan-teladan dan peringatan (fahal min mu’tabir mutta’iz yatadhakkar
faya’tabir bima fih min al-‘ibar wa al-Dhikr). Kalau pada kalimat pertama
penjelasannya, al-Tabariy menggunakan kata kerja (fi’il), “…liman arada an
yatadhakkar wa ya’tabir wa yatta’iz…”: yatadhakkar, ya’tabir, yatta’iz
(mengingat-ingat, mengambil pelajaran, mengambil nasehat), maka pada kalimat
kedua penjelasan al-Tabariy menggunakan fa’il (pelaku)
Hal ini sepenuhnya dapat diterima karena ketika Al-Qur'an telah
memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan (fi’il) seperti menghafal (yatadhakkar),
mempelajari (ya’tabir), menerima nasehat (yatta’iz), maka tentu
saja Al-Qur’an akan menantang siapa yang mau untuk menjadi pelaku (fail).
Dengan demikian, penafsiran al-Tabariy dalam ayat kedua terhadap ayat Taisir dalam Al-Qur’an
menggunakan fa’il, yaitu mu’tabir (pembelajar atau orang yang
mengambil pelajaran) dan mutta’iz (penerima nasihat atau orang yang
menerima nasihat) “fahal min mu’tabir mutta’iz yatadhakkar faya’tabir bima
fih min al-‘Ibar wa al-Dzikir”. Sebab, seseorang yang ingin menjadi mu’tabir
(pelajar atau orang yang mendapat pelajaran) dan mutta’iz (orang yang menerima nasehat), maka ia harus melakukan aktivitas atau kegiatan
mempelajari pelajaran, menerima nasehat, menghafal, dengan begitu ia mempelajari
hikmah dari apa yang ada dalam Al-Qur’an, yaitu teladan-teladan dan peringatan
(fahal min mu’tabir mutta’iz yatadhakkar faya’tabir bima fih min al-‘Ibar wa
al-Dzikir)
“Maka apabila dalam memulai atau sedang menghafalkan Al- Qur’an , setiap kali mengalami kesulitan yakinkan lah dalam diri bahwa menghafal Al-Qur’an itu “Mudah Mudah Mudah” tanpa keraguan sedikitpun”
